Jumat, 16 Maret 2012

Pesan Orang Tua kepada Anaknya

     Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat tali sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarimu.


     Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur. 


     Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatlah sewaktu kecil aku harus memkai segala cara untuk membujukmu mandi ?


     Ketika aku tak paham sedikitpun tentang teknologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaiaman dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.


     Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan saat kau kecil.


     Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.


     Ketika kau memandang aku yang mulai manua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalani sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Janganlah menangis...

        Janganlah menangis kalu tak tercapai cita-cita, sebab bukankah Tuhan yang telah menentukannya ?
        
        Janganlah menangis saat menonton film karena itu hanya lakon. Maksudnya, janganlah menangis karena cinta tak terbalas, sebab mungkin dia bukanlah jodoh yang Tuhan telah tetapkan. 

        Janganlah menangis jika gagal dalam satu perbuatan sebab mungkin kita jurang mengadakan persiapan.

        Jangan menangis kalau uang kita hilang di jalanan sebab mungkin kita kurang bersedekah dan beramal.

        Janganlah menangis kalau tidak dinaikkan pangkat. Yakinlah, rezeki itu adalah pemberian
Tuhan.

        Maka dari itu ... simpanlah air mata dan tangisan itu semua untuk bekal menginsyafi segala kejadian yang telah kita alami. Mungkin segala dosa-dosa yang berupa bintik-bintik hitam sudah menggelamkan hati hingga sukar untuk menerima hidayah dari Allah.

        Serulah air mata itu dari persembunyiannya di balik kelopak mata agar ia menetes, membasahi, dan mencuci hati agar ia pulih kembali, juga semoga ia dapat melebur dosa-dosa, dan moga-moga mendapat ampunan-Nya juga.